Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 03 Januari 2012

Foto Hot Aura Kasih di Majalah Popular

COVER Majalah POPULAR

Spoiler for Pose 1:

 

Spoiler for “Pose 2”:

 

Spoiler for “Pose 3”:

 

Spoiler for “Pose 4”:

 

Spoiler for “Pose 5”:

 

Spoiler for “Pose 6”:

 


Spoiler for “Pose 8”:

 

Spoiler for “Pose 9”:

 

Spoiler for “Pose 10”:

 

Spoiler for “Pose 10.5”:

 

Spoiler for “Pose 11”:

 

Spoiler for “Pose 12”:

 

Spoiler for “Pose 13”:

 

Spoiler for “Pose 14”:

 

Spoiler for “Pose 16”:

 

Spoiler for “Pose 17”:

Jumat, 23 September 2011

Kisah Perselingkuhan - 3

Pijatan-pijatan kecil di bahuku terasa nyaman dan enak sekali. Aku begitu menikmati apa yang terasa. Hingga beberapa saat kemudian tubuhku melemas. Kepalaku mulai tertahan oleh perut Mas Sandi yang masih berada di belakangku. Sejenak aku membuka mataku, nampak Yanti membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meremas pelan kedua payudaranya secara bergantian. Tersungging senyuman di bibirnya.

"Nikmati Rida..! Nikmati apa yang kamu sekarang rasakan..!" suara Yanti masih sedikit membisik.
Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Mas Sandi yang mulai mendarat di daerah atas payudarara yang tidak tertutup. Mataku masih terpejam.
"Ini.. kan yang kamu inginkan. Kupinjamkan suamiku..!" kata Yanti lagi.
Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Yanti yang masih dengan posisinya.
"Ayo Mas..! Nikmati Rida yang pernah kamu taksir dulu..!" kata Yanti lagi.
"Tentu saja Sayang.., asal.. kamu ijinkan..!" kata suara berat Mas Sandi.

Tubuhnya dibungkukkan. Kemudian wajahnya ditempelkan di bagian atas kepalaku. Terasa bibirnya mencium mesra daerah itu. Kembali aku memejamkan mata. Bulu-buluku semakin keras berdiri. Sentuhan lembut tangan Mas Sandi benar-benar nikmat. Sangat pintar sekali sentuhan itu memancing gairahku untuk bangkit. Apalagi ketika tangan Mas Sandi sebelah kanan berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku itu.

"Oh.., Mas.., Maas.. jangaan.. Mas..!" aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Mas Sandi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh.
Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku. Aku sudah terbius suasana.

Mas Sandi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran disentuhnya, dan aku mendesah nikmat ketika leherku mulai dicium mesra oleh Mas Sandi. Sementara desahan-desahan kecil terdengar dari mulut Yanti.

Aku melirik sejenak ke arah Yanti, rupanya dia sedang masturbasi. Lalu aku memejamkan mata lagi, kepalaku kutengadahkan memberikan ruangan pada leherku untuk diciumi Mas Sandi. Persaanku sudah tidak malu-malu lagi, aku sudah kepalang basah. Aku lupa bahwa aku telah bersuami, dan aku benar-benar akan merasakan apa yang akan kurasakan nanti, dengan lelaki yang bukan suamiku.

"Buka ya.. BH-nya, Rida..!" kata Mas Sandi sambil melepas kancing tali BH-ku dari punggung.
Beberapa detik BH itu terlepas, maka terasa bebas kedua payudaraku yang sejak tadi tertekan karena mengeras. Suara Yanti semakin keras, rupanya dia mencapai orgasmenya. Kembali aku melirik Yanti yang membenamkan jari manis dan jari telunjuknya ke dalam vaginanya sendiri. Nampak dia mengejang dengan mengangkat pinggulnya.

"Akh.., nikmaats.. ooh.. nikmaatts.. sekalii..!" begitu kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Dan tidak lama kemudian dia terkulai lemas di ranjang itu. Sementara Mas Sandi sibuk dengan kegiatannya.

Kini kedua payudaraku sudah diremasi dengan mesra oleh kedua telapak tangannya dari belakang. Sambil terus bibirnya menjilati inci demi inci kulit leherku seluruhnya. Sedang enak-enaknya aku, tiba-tiba ada yang menarik celana dalamku. Aku membuka mataku, rupanya Yanti berusaha untuk melepas celana dalamku itu. Maka kuangkat pantatku sejenak memudahkan celana dalamku dilepas oleh Yanti. Maka setelah lepas, celana dalam itu juga dibuang jauh-jauh oleh Yanti.

Aku menggeser posisi dudukku menuju ke bagian tengah ranjang itu. Mas Sandi mengikuti gerakanku masih dari belakang, sekarang dia tidak berlutut, namun duduk tepat di belakang tubuhku. Kedua kakinya diselonjorkan, maka pantatku kini berada di antara selangkangan milik Mas Sandi. Terasa oleh pantatku ada tonjolan keras di selangkangan. Rupanya penis Mas Sandi sudah tegang maksimal.

Lalu Yanti membuka lebar-lebar pahaku, sehingga kakiku berada di atas paha Mas Sandi. Lalu dengan posisi tidur telungkup, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku, dan apa yang terjadi..
"Awwh.. ooh.. eeisth.. aakh..!" aku menjerit nikmat ketika kembali kurasakan lidahnya menyapu-nyapu belahan vaginaku, terasa kelentitku semakin menegang, dan aku tidak dapat mengendalikan diri akibat nikmat, geli, enak, dan lain sebagainya menyatu di tubuhku.

Kembali kepalaku menengadah sambil mulutku terbuka. Maka Mas Sandi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tahu maksudku. Dari belakang, bibirnya langsung melumat bibirku yang terbuka itu dengan nafsunya. Maka kubalas ciuman itu dengan nafsu pula. Dia menyedot, aku menyedot pula. Terjadilah pertukaran air liur Mas Sandi dengan air liurku. Terciuma aroma rokok pada mulutnya, namun aroma itu tidak mengganggu kenikmatan ini.

Kedua tangan Mas Sandi semakin keras meremas kedua payudaraku, namun menimbulkan nikmat yang teramat, sementara di bawah Yanti semakin mengasyikkan. Dia terus menjilat dan mencium vaginaku yang telah banjir. Banjir oleh cairan pelicin vaginaku dan air liur Yanti.
"Mmmhh.. akh.. mmhh..!" bibirku masih dilumati oleh bibir Mas Sandi.

Tubuhku semakin panas dan mulai memberikan tanda-tanda bahwa aku akan mencapai puncak kenikmatan yang kutuju. Pada akhirnya, ketika remasan pada payudaraku itu semakin keras, dan Yanti menjilat, mencium dan menghisap vaginaku semakin liar, tubuhku menegang kaku, keringat dingin bercucuran dan mereka tahu bahwa aku sedang menikmati orgasmeku. Aku mengangkat pinggulku, otomatis ciuman Yanti terlepas. Semakin orgasmeku terasa ketika jari telujuk dan jari manis Yanti dimasukkan ke liang vaginaku, kemudian dicabutnya setengah, lalu dimasukkan lagi.

Perlakuan Yanti itu berulang-ulang, yaitu mengeluar-masukkan kedua jarinya ke dalam lubang vaginaku. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa nikmat dan enak pada saat itu.
"Aakh.. aawhh.. nikmaatss.. terus.. Yantii.. ooh.. yang cepaat.. akh..!" teriakku.
Tubuh Mas Sandi menahan tubuhku yang mengejang itu. Jarinya memilin-milin puting susuku. Bibirnya mengulum telingaku sambil membisikkan sesuatu yang membuatku semakin melayang. Bisikan-bisikan yang memujiku itu tidak pernah kudengar dari Mas Hadi, suamiku.

"Ayo cantik..! Nikmatilah orgasmemu.., jangan kamu tahan, keluarkan semuanya Sayang..! Nikmatilah.., nikmatilah..! Oh.., kamu cantik sekali jika orgasme..!" begitu bisikan yang keluar dari mulut Mas Sandi sambil terus mengulum telingaku.
"Aakh.. Maass, aduh.. Yanti.., nikmaats.. oh.. enaaks.. sekali..!" teriakku.
Akhirnya tubuh kejangku mulai mengendur, diikuti dengan turunnya kenikmatan orgasmeku itu.

Perlahan sekali tubuhku turun dan akhirnya terkulai lemas di pangkuan Mas Sandi. Lalu tubuh Yanti mendekapku.
Dia berbisik padaku, "Ini.. belum seberapanya Sayaang.., nanti akan kamu rasakan punya suamiku..!" sambil berkata demikian dia mencium keningku.
Mas Sandi beranjak dari duduknya dan berjalan entah ke arah mana, karena pada saat itu mataku masih terpenjam seakan enggan terbuka.

Entah berapa lama aku terlelap. Ketika kusadar, kubuka mataku perlahan dan mencari-cari Yanti dan Mas Sandi sejenak. Mereka tidak ada di kamar ini, dan rupanya mereka membiarkanku tertidur sendiri. Aku menengok jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Segera aku bangkit dari posisi tidurku, lalu berjalan menuju pintu kamar. Telingaku mendengar alunan suara musik klasik yang berasal dari ruangan tamu. Dan ketika kubuka pintu kamar itu yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tamu, mataku menemukan suatu adegan dimana Yanti dan suaminya sedang melakukan persetubuhan.

Yanti dengan posisi menelentang di sofa sedang ditindih oleh Mas Sandi dari atas. Terlihat tubuh Mas Sandi sedang naik turun. Segera mataku kutujukan pada selangkangan mereka. Jelas terlihat penis Mas Sandi yang berkilat sedang keluar masuk di vagina Yanti. Terdengar pula erangan-erangan yang keluar dari mulut Yanti yang sedang menikmati hujaman penis itu di vaginanya, membuat tubuhku perlahan memanas. Segera saja kuhampiri mereka dan duduk tepat di depan tubuh mereka.

Di sela-sela kenikmatan, Yanti menatapku dan tersenyum. Rupanya Mas Sandi memperhatikan istrinya dan sejenak dia menghentikan gerakannya dan menengok ke belakang, ke arahku.
"Akh.. Mas.., jangan berhentii doong..! Oh..!" kata Yanti.
Dan Mas Sandi kembali berkonsentrasi lagi dengan kegiatannya. Kembali terdengar desahan-desahan nikmat Yanti yang membahana ke seluruh ruangan tamu itu. Aku kembali gelagapan, kembali resah dan tubuhku semakin panas. Dengan refleks tanganku membelai vaginaku sendiri.

"Oh.. Ridhaa.., nikmat sekaallii.. loh..! Akuu.. ooh.. mmh..!" kata Yanti kepadaku.
Aku melihat wajah nikmat Yanti yang begitu cantik. Kepalannya kadang mendongak ke atas, matanya terpejam-pejam. Sesekali dia gigit bibir bawahnya. Kedua tangannya melingkar pada pantat suaminya, dan menarik-narik pantat itu dengan keras sekali. Aku melihat penis Mas Sandi yang besar itu semakin amblas di vagina Yanti. Samakin mengkilat saja penis itu.

"Oh Mas.., aku hampiir sampaaii..! Teruus.. Mas.. terus..! Lebih keras lagiih.., ooh.. akh..!" kata Yanti.
Yanti mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya, Mas Sandi terus dengan gerakannya menaik-turunkan tubuhnya dalam kondisi push-up.
"Maass.., akuu.. keluaar..! Aakh.. mhh.. nikmaats.., mmh..!" kata Yanti lagi dengan tubuh yang mengejang.
Rupanya Yanti mencapai orgasmenya. Tangannya yang tadi melingkar di pantat suaminya, kini berpindah melingkar di punggung.

Mas Sandi berhenti bergerak dan membiarkan penis itu menancap dalam di lubang kemaluan Yanti.
"Owhh.. banyak sekali Sayang.. keluarnya. Hangat sekali memekmu..!" kata Mas Sandi sambil menciumi wajah istrinya.

Dapat kubayangkan perasaan Yanti pada saat itu. Betapa nikmatnya dia. Dan aku pun belingsatan dengan merubah-rubah posisi dudukku di depan mereka. Beberapa saat kemudian, Yanti mulai melemas dari kejangnya dan merubah posisinya. Segera dia turun dari sofa ketika Mas Sandi mencabut penis dari lubang kenikmatan itu. Aku melihat dengan jelas betapa besar dan panjang penis Mas Sandi. Dan ini baru pertama kali aku melihatnya, karena waktu tadi di dalam kamar, Mas Sandi masih menutupi penisnya dengan celana dalam.

Dengan segera Yanti menungging. Lalu segera pula Mas Sandi berlutut di depan pantat itu.
"Giliranmu.. Mas..! Ayoo..!" kata Yanti.
Tangan Mas Sandi menggenggam penis itu dan mengarahkan langsung ke lubang vagina Yanti. Segera dia menekan pantatnya dan melesaklah penis itu ke dalam vagina istrinya, diikuti dengan lenguhan Yanti yang sedikit tertahan.
"Owwh.. Maas.. aakh..!"
"Aduuh.. Yantii.., jepit Sayangh..!" kata Mas Sandi.

Lalu kaki Yanti dirapatkan sedemikian rupa. Dan segera pantat Mas Sandi mulai mundur dan maju.Ufh.., pemandangan yang begitu indah yang kulihat sekarang. Baru kali ini aku menyaksikan sepasang manusia bersetubuh tepat di depanku secara langsung. Semakin mereka mempercepat tempo gerakannya, semakin aku terangsang begitu rupa. Tanganku yang tadi hanya membelai-belai vaginaku, kini mulai menyentuh kelentitku.

Kenikmatan mulai mengaliri tubuhku dan semakin aku tidak tahan, sehingga aku memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri. Aku sendiri sangat menikmati masturbasiku tanpa lepas pandanganku pada mereka. Belum lagi telingaku jelas mendengar desahan dan rintihan Yanti, aku dapat membayangkan apa yang dirasakan Yanti dan aku sangat ingin sekali merasakannya, merasakan vaginaku pun dimasukkan oleh penis Mas Sandi.

Bersambung . . . . .

Menembus Batas - 1

Sudah lama aku mengenal tamuku yang bernama sebut saja Dibyo, seorang chinese yang bekerja sebagai pemasaran di Maspion, dia merupakan salah satu tamu langgananku yang pada mulanya adalah teman biasa di bisnis jual beli mobil bekas, pekerjaan "sampingan" sekaligus kamuflase. Dia mengetahui profesiku yang lain secara kebetulan tak kala diajak teman temannya untuk "hunting", dan ternyata salah satu gadis yang dibooking adalah aku, melalui seorang GM, jadi aku tidak menyangka sama sekali kalau "kepergok" seperti ini, begitu juga diapun tak menyangka bertemu aku dalam posisi seperti ini. Tentu saja kami berdua terkejut tapi sama-sama tak mungkin mengelak.

Aku kenal istri dan keluarganya, termasuk adik-adiknya karena kami memang sangat dekat. Sungguh suatu keadaan yang sama sekali lain dan tidak disangka sebelumnya, aku merasa begitu rikuh dan kulihat dia juga mengalami hal yang sama. Ingin rasanya aku lari keluar kembali ke mobilku, tapi tentu saja si GM akan kecewa dan mencoretku dari daftarnya, padahal GM itu banyak memberi orderan dan aku tak ingin hal itu terjadi. Harapan satu satunya adalah aku tidak melayaninya.

Dia ditemani kedua temannya begitu juga aku dengan 2 gadis lain yang dikirim oleh GM yang sama. Saat kami dikenalkan satu persatu, tertangkap sorot mata aneh menatapku tajam, aku tak bisa menerjamahkan sorot mata itu, dengan tersipu malu dan wajah bersemu merah aku memalingkan tatapanku dari sorotnya, tak sanggup melawannya.

Tanpa memberi kesempatan teman temannya, dia langsung memilih aku, membuatku semakin bertambah rikuh, rasanya tak mungkin melakukan dengan orang yang selama ini kukenal sebagai seorang teman dalam batas pertemanan, tak tega rasanya menghianati Wenny, istrinya yang kuanggap sebagai seorang teman.

Berenam kami menuju ke Stasium di Tunjungan Plaza, sepanjang jalan aku dan Dibyo terdiam tanpa bicara, sejuta kecamuk dalam pikiran kami masing masing, tak tahu harus mulai dari mana. Sungguh berbeda dengan kedua temannya yang banyak canda dan tawa dengan kedua gadisnya.

Aku tahu bahwa aku harus bertindak profesional, tapi dalam bisnis ini, emosi dan perasaan tetap memegang peranan yang besar, itu manusiawi.

Keadaan sedikit tertolong karena dia harus nyetir BMW-nya sehingga kekakuan kami tidak terlalu terbaca teman temannya, mereka pasti pikir si Dibyo diam karena konsentrasi pada setirannya, mereka tentu tidak memperhatikan bahwa tak sejengkalpun tubuhku disentuhnya, tidak seperti mereka yang dibelakang yang tangannya sudah menggerayang ke seluruh tubuh pasangannya masing masing.

Detak pekik House musik dan geliat birahi para pengunjung di lantai dance tak mampu mencairkan kekakuan di antara kami, bahkan saat lagu "Lemon Tree" kesukaanku berkumandang nyaring, tetap tak mampu menggerakkan kakiku menuju lantai dansa, begitu kaku, begitu juga Dibyo yang tak berani mengambil inisiatif mengajakku turun, kalau saja dia mengajakku pasti aku tak kuasa untuk menolak tapi hal itu tak terjadi. Padahal sudah sering kali aku turun sama dia saat bersama istrinya ke diskotik.

Butir butir extasi yang mereka bagikan, hanya kugenggam di tanganku. Kami sama sama terpaku membeku dalam panasnya alunan hentakan house music.

Pukul 01.00 kami meninggalkan diskotik menuju Hotel Tunjungan yang hanya bersebelahan dengan komplek pertokoan itu. Tiga jam yang panjang kualami penuh kebekuan, tak seujung rambutpun dia menyentuhku apalagi mencium atau meraba tubuhku, meskipun kesempatan itu sangat luas terbentang.

Ketika kami memasuki kamar masing masing, kekakuan diantara kami masih ada bahkan terasa semakin membeku. Aku tak tahu harus berbuat apa.

"Aku nggak nyangka kalau kita bisa bertemu dalam keadaan seperti ini" katanya setelah menyalakan Marlboronya, inilah kata pertama yang ditujukan padaku sejak ketemu 4 jam yang lalu.

"Aku juga" jawabku singkat sedikit bergetar, keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku, kebiasaan kalau aku dalam keadaan gugup.
"Selanjutnya gimana nih" tanyanya, entah pura pura atau memang karena rikuh.
"Terserah kamu saja, aku ikut" jawabku masih bergetar.

Dibyo beranjak dari tempat duduknya menghampiriku, dia duduk disampingku, jantungku berdetak kencang dan semakin kencang saat dia memelukku. Bukan pertama kali dia memelukku seperti ini, bahkan mencium pipiku pun sudah sering dia lakukan meskipun di depan istrinya, tapi semua itu tentu saja dalam konteks yang lain.

Aku hanya diam saja sambil meremas tanganku semakin erat ketika dia mulai mencium pipiku, sungguh terasa lain ciumannya dibandingkan sebelum sebelumnya, ada getaran aneh menyelimuti hatiku, kembali aku tak tahu harus berbuat apa.

Ciuman Dibyo sudah menyusur ke leharku, kurasakan tangannya gemetar saat mulai mengelus elus buah dadaku, jantungku semakin berdetak kencang saat tangan gemetar itu menyusup dibalik kaosku, terasa dingin ketika menyentuh kulit buah dadaku.

Sesaat aku hanya terdiam saat bibirnya mulai menyentuh bibirku, dilumatnya dengan lembut bibir merahku sembari menuntun tanganku ke selangkangannya, terasa menegang. Tanpa kusadari ternyata dia sudah membuka resliting celananya hingga tanganku langsung menyentuh kejantanannya yang masih terbungkus celana dalam.

Aku mulai membalas kulumannya ketika tanganku sudah menyusup dibalik celana dalamnya dan mulai meremas remas kejantanan sobatku ini.

Menit menit selanjutnya terlupakan sudah siapa Dibyo sebelumnya, terlupakan sudah si Wenny istrinya yang cantik, aku kembali berada dalam duniaku, seorang gadis panggilan yang sedang bekerja memuaskan tamunya, meskipun demikian aku masih tak tega memandang wajah gantengnya, setiap kali kulihat wajahnya aku selalu teringat akan istrinya, jadi aku selalu berusaha untuk memalingkan wajahku atau memejamkan mata saat wajah kami berhadapan.

Harus kuakui ternyata Dibyo seorang yang sabar dan romantis, kuluman pada bibir dan putingku serasa begitu nikmat dan penuh perasaan, akupun tanpa malu mulai mendesah nikmat dalam buaian sobatku.

Perlu hampir 1 jam bagi kami untuk saling menelanjangi, tubuh bugil kami sudah beralih ke atas ranjang, Dibyo melanjutkan ciumannya pada sekujur tubuhku tapi tampaknya masih ada keraguan untuk menjilati selangkanganku, begitu juga aku, seakan ada penghalang yang mencegahku mengulum penisnya.

Ketika tubuh telanjangnya hendak menindihku, tiba tiba terdengar bunyi telepon. Dengan agak malas dia mengangkat telepon, rupanya teman temannya telah lama menyelesaikan satu babak, padahal kami baru akan mulai. Mereka menanyakan apakah akan melanjutkan hingga pagi, dia menanyaiku dan kujawab terserah. Akhirnya diputuskan untuk nginap.

Sebelum kembali ke pelukanku, Dibyo mengambil HP dan menghubungi istrinya untuk memberitahu kalau dia pulang pagi dengan alasan menemaniku di diskotik, entah apa dalam benak Wenny karena tidak ada iringan musik pada backgroundnya. Kami memang sering ke diskotik sama sama hingga menjelang pagi jadi bukan sekali ini Dibyo pulang pagi. Dia memberikan HP-nya kepadaku.

"Hai Wen, sorry malam ini aku pinjam suamimu tanpa permisi" kataku.
"Ya udah, tolong jaga dia jangan sampai lupa pulang, yang penting pulang dengan selamat biar dengan botol kosong" katanya ditutup dengan ketawa ciri khasnya, kami memang sudah biasa bergurau bebas, aku jadi semakin merasa bersalah melihat begitu percayanya dia padaku. Tapi ini adalah bisnis bukan aku berselingkuh dengan suaminya tapi dia yang mem-bookingku, hiburku dalam hati.

Dibyo kembali menghampiriku yang masih telentang telanjang di atas ranjang, kami harus mulai lagi dari awal. Kali ini tiada lagi keraguan diantara kami meski aku tetap tak bisa menatap wajahnya. Dengan memejamkan mata, kusambut lumatan bibirnya sembari meremas remas kejantantannya yang sudah lemas. Dia mulai berani mendesah, akupun demikian saat bibirnya mendarat di puncak bukitku.

Kujepit pinggangnya dengan kakiku saat sedotannya semakin kuat sambil menyapukan kepala penisnya ke bibir vaginaku, kubuka sedikit mataku menatapnya, ternyata dia menatapku dengan penuh perasaan, tak sanggup aku menatapnya lebih lama, kututup kembali mataku rapat rapat dan semakin rapat saat penisnya mulai menerobos memasuki liang vaginaku.

Entahlah, tidak seperti pada tamuku lainnya, kali ini kurasakan getaran getaran aneh menyelimuti diriku, semakin dalam penis itu melesak masuk, semakin keras getaran itu seiring kerasnya degup jantungku yang berdetak kencang. Aku telah menodai persahabatan yang selama ini kubangun, aku telah menghianati Wenny yang begitu percaya padaku. Tapi perasaan nikmat dan semakin nikmat perlahan mengusir rasa bersalah dan segala keseganan antara aku dan Dibyo.

Kejantanan Dibyo perlahan penuh perasaan mengocokku diiringi cumbuan dan lumatan pada bibirku yang kubalas dengan tak kalah gairahnya, dan akupun semakin kelojotan dalam dekapan hangat suami sahabatku ini takkala ciumannya menyusuri leherku.


Bersambung . . . . .

Menembus Batas - 2

Berdua kami mengayuh biduk birahi menyeberangi lautan nafsu, lenguh dan desah kenikmatan mengiringi perjalanan kami. Beberapa menit kemudian kamipun telah sampai ke seberang kenikmatan, hanya berselang beberapa detik setelah Dibyo menumpahkan semua cairan birahinya ke rahimku, aku menyusulnya menggapai puncak kenikmatan dari suami sobatku.

Tubuh lemasnya langsung terkulai menindihku, napas kami menyatu mengiringi denyut jantung yang berdetak kencang, hembusan napasnya menerpa telingaku, aku kembali terbuai akan kehangatannya meski perlahan gairah kami mulai menurun.

Beberapa saat suasana hening, entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya, apakah menyesal telah meniduri temannya ataukah puas telah menikmati tubuhku, hanya dia yang tahu. Bagiku tugas melayani seorang tamu telah kulaksanakan, kebetulan dia adalah teman dan suami sobatku, itu adalah diluar kehendak kami masing masing.

Mungkin karena sama sama segan, permainan kami biasa biasa saja, bahkan relatif singkat, tak ada pergantian posisi seperti umumnya, baik dari dia maupun dari aku sendiri.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi ketika telepon berbunyi, dengan segan Dibyo menerima, yang pasti dari temannya di kamar sebelah.

"Hei, kamu yang ke sini atau aku yang ke sana, si kampret satu itu sudah pulang soalnya" kata suara dari seberang sayup sayup kudengar, aku tak tahu maksudnya.
"Kali ini nggak bisa Jon, kita sendiri sendiri aja deh" jawabnya.
"Kok kamu gitu sih, mentang mentang dapat yang si cantik Lily terus nggak mau berbagi, kawan macam apa itu" dari seberang terdengar dengan nada tinggi, aku masih nggak tahu maksudnya.

Dibyo diam sejenak, menatapku dalam dalam seakan hendak mengatakan sesuatu.

"Dia mau ke sini" katanya pelan.
"Emang sudah selesai? Mau check out? Malam malam begini? Tanggung amat" tanyaku nggak ngerti.
"Enggak, mau pindah bergabung ke sini sama ceweknya"
"Pindah? Bergabung? Trus?" tanyaku semakin tak mengerti.

Dia diam sejenak.

"Trus.. Trus.. Ya disini.. Ber.. Berempat" jawabnya terpatah patah, kulihat mimik muka bersalah di wajahnya.
"Sorry ya, aku telah membawamu ke situasi seperti ini, sudah kebiasaan untuk bertukar pasangan atau bersamaan pada akhirnya" lanjutnya sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya, sepertinya untuk menutupi rasa bersalahnya.

Sebenarnya aku tidak keberatan melakukan hal itu, toh sudah sering kulakukan, tapi ini di depan Dibyo, ada keengganan tersendiri yang menjadi penghalang, entahlah perasaan jaga image masih kuat kurasakan. Disamping itu, aku agak kaget mendapati kenyataan bahwa Dibyo yang kukenal cukup pendiam, meski aku cukup yakin sebelumnya dia bukan tipe suami yang setia, ternyata menjalani petualangan seperti ini dengan teman temannya, sungguh jauh dari penampilan keseharian yang terkesan pendiam.

"Terserah kamu saja lah, toh kamu boss-nya" jawabku lirih berusaha memberi kesan terpaksa, takut kalau dia tahu kalau aku sudah sering melakukan permainan seperti ini.
"Ly, kamu boleh menolak, bebas kok, paling resikonya aku dijauhi teman teman dan dibilang egois"
"Janganlah kalau sampai ditinggal teman teman hanya masalah beginian, malu kan" aku menghibur.
"Sebenarnya aku nggak rela kalau kamu harus melayani orang lain, apalagi dihadapanku, tapi semua terserah kamu deh"

Aku diam sejenak memikirkan kalimat yang "innocent" untuk menjawab kata IYA, tak tega rasanya mengatakan kalau selama ini akupun selalu melayani orang lain, apa bedanya dengan sekarang.

"Okelah kalau itu maumu" jawabku sembari mengambil rokok yang ada di jarinya, kulihat sorot mata aneh dari matanya.
"Jon, kamu ke sini aja deh" akhirnya dia meminta temannya untuk datang.

Sambil menunggu kedatangan si Josua, aku mandi membersihkan tubuh terutama vaginaku dari sisa sisa keringat maupun sperma Dibyo.

Tak lebih 10 menit kemudian, teman Dibyo sudah berada di kamar, ternyata gadis yang datang bersamanya adalah Lenny, bukan Cindy yang tadi bersamanya, rupanya dia telah melakukan pertukaran dengan sebelumnya.

"Len, bukannya dia tadi sama Cindy, kok sekarang sama kamu, sudah tukeran rupanya ya" bisikku ketika aku dan Lenny berada di kamar mandi berdua.
"Gila tuh si Josua, kuat banget, dan malam ini dia bakal dapat 3 cewek berurutan" bisiknya pelan.

Kamipun tertawa cekikan di kamar mandi.

Dengan berbalut handuk di dada, aku dan Lenny keluar kamar mandi, Dibyo duduk di sofa sementara Josua sudah telentang di ranjang, keduanya sudah dalam keadaan telanjang.

Lenny langsung mengambil posisi di antara kaki Dibyo, aku mau tak mau harus langsung menuju ranjang melayani Josua. Kejantanan Josua yang sudah tegang memang mengagumkan, meski tidak terlalu panjang tapi cukup besar diameternya dengan hiasan otot melingkar terlihat semakin kokoh.

Josua langsung menarik tubuhku dalam pelukannya, dilemparkannya handuk penutup tubuhku dan tubuh telanjang kami saling berangkulan.

Kubalas lumatan bibirnya dengan tak kalah gairah, desahankupun terlepas bebas tatkala bibir dan lidahnya mempermainkan kedua putingku bergantian. Sesaat kulirik Dibyo sudah merem melek menikmati sapuan bibir mungil Lenny pada penisnya sambil meremas remas kedua buah dadanya yang sedikit lebih besar dari punyaku. Sudah sering kudengar kemahiran Lenny dalam ber-oral, kini kulihat sendiri bagaimana bibirnya menyusuri penis Dibyo dengan bergairah.

Perhatianku kembali beralih ke Josua saat dia membalik tubuhku dibawahnya, lidahnya dengan lincah menari nari dikedua putingku, menyusur turun hingga selangkangan dan kembali bergerak liar saat mendapati klitorisku. Kombinasi antara jilatan dan kocokan jari jari tangannya di vagina membuatku menggeliat dan mendesah dalam nikmat sambil meremas remas kepala Josua yang berada di selangkanganku.

Tiba tiba aku dikagetkan teriakan Lenny, rupanya aku terlalu asik melayang layang hingga tak memperhatikan mereka telah berganti posisi, kepala Dibyo sudah berada di antara paha Lenny sedang asik menjilati vaginanya, ternyata itu yang membuat Lenny menjerit nikmat.

Meskipun cumbuan permainan oral Josua begitu nikmat, aku banyak membagi perhatianku pada Dibyo dan Lenny, sekedar ingin tahu bagaimana permainan Dibyo bila dengan gadis lain setelah aku mengalami dengannya biasa biasa saja. Baru sekarang aku tahu ternyata Dibyo juga seorang great fucker, dengan telaten dia menyusuri seluruh lekuk tubuh Lenny dengan lidahnya, bahkan hingga jari jari kaki tak luput dari sapuan lidahnya, terang saja membuat Lenny kelojotan tak karuan. Andai saja dia tadi melakukannya padaku. Beruntunglah Wenny bisa mendapatkan cumbuan seperti itu setiap saat.

Perhatianku terganggu saat tubuh Josua sudah mekangkang di atas dadaku, menyodorkan kejantanannya ke mukaku, segera kuraih, kukocok sejenak dengan tanganku lalu kujilati kepala penisnya, terasa asin akan cairan yang sudah menetes keluar. Beberapa detik kemudian penis Josua sudah lancar mengisi mulutku, keluar masuk mengocoknya.

Puas mengocokkan penisnya ke mulutku, Josua bergeser ke bawah, mengatur posisinya diantara kakiku, aku membuka lebih lebar saat kepala penisnya menyapu bibir vagina dan perlahan menyeruak membelah celah celah sempit liang kenikmatanku. Perlahan tapi pasti penis itu melesak semakin dalam, namun gerakan penetrasi terganggu ketika Dibyo dan Lenny berpindah ke ranjang di samping kami sehingga mengharuskan kami sedikit bergeser memberi tempat pada mereka. Terpaksa Josua menarik keluar penisnya yang sudah setengah jalan menyusuri liang kenikmatanku.

Aku dan Lenny telentang berdampingan dengan kedua laki laki sudah siap diantara selangkangan kami masing masing. Namun sebelum Josua melesakkan kembali penisnya, Dibyo bergeser ke kepalaku, menyodorkan penisnya tepat di atas mulutku. Segera kuraih dan kumasukkan ke mulutku, hal yang tadi tidak kami lakukan, bersamaan dengan penis Josua mulai meluncur masuk liang vaginaku. Sesaat kuhentikan kulumanku ketika Josua sudah melesakkan seluruh batang kejantanannya, terasa penuh dibandingkan dengan Dibyo sebelumnya. Akupun melanjutkan kulumanku pada Dibyo ketika Josua memulai kocokannya. Hanya beberapa menit Dibyo mengocok mulutku kemudian beralih ke mulut Lenny, rupanya dia hendak membandingkan antara kulumanku dengan Lenny.

Tubuh Josua sudah menindihku, sodokan penisnya semakin cepat dan keras penuh nafsu gairah, akupun mengimbangi dengan jeritan dan desahan nikmat sembari menjepitkan kakiku di pinggangnya. Bibir Josua tak pernah lepas dari tubuhku, menyusur leher, pipi, bibir lalu kembali ke leher.

Kulihat Dibyo masih mengocok bibir Lenny sambil memperhatikan expresi kenikmatan yang terpancar di wajahku, expresi yang tidak aku tunjukkan saat bersamanya dan aku yakin dia mengetahui itu, sesekali jari tangannya dimasukkan ke mulutku yang tengah menengadah mendesah, akupun membalas dengan kuluman dan mempermainkan lidahku pada jari jarinya.

Berulangkali tubuhku terhentak terkaget tapi nikmat merasakan hentakan keras dari Josua, kudekap tubuhnya semakin rapat seakan tubuh telanjang kami menyatu dalam nikmatnya birahi.

Josua mengangkat tubuhnya, masih tetap mengocokku dengan tubuh setengah jongkok, justru kurasakan penisnya semakin dalam tertanam. Bersamaan dengan itu, Dibyo sudah berada di antara kaki Lenny bersiap melesakkan penisnya tapi dia tidak langsung memasukkannya, justru lebih suka melihat wajahku yang tengah mendesah sambil mengamati bagaimana penis temannya keluar masuk menyodok vagina sobat istrinya ini.


Bersambung . . . .

Menembus Batas - 3

Aku sudah tak memperhatikan lebih jauh lagi karena sodokan Josua semakin liar dan nikmat, namun kemudian kudengar desah dan jerit kenikmatan dari Lenny mengiringi desahanku. Dengan irama goyangan yang berbeda, kedua laki laki itu mengocok kami berdua, simfony desah kenikmatan memenuhi kamar yang penuh aroma birahi. Kutatap wajah ganteng Josua yang penuh expresi nikmat birahi. Berulang kali tatapan mataku beradu pandang dengan Dibyo, rupanya meskipun sedang mengocok Lenny yang cantik, tapi tatapan matanya lebih sering tertuju pada wajahku yang tengah mendesah nikmat merasakan kocokan temannya, apalagi Josua mengocokku dengan gerakan yang liar dan tak beraturan diselingi dengan hentakan keras yang membuatku menjerit jerit nikmat.

Josua membalik tubuhku disusul kocokan dari belakang, posisi dogie, Dibyo mengikutinya. Begitu juga ketika kami berganti lagi posisi, aku di atas, diapun meminta Lenny untuk di atas.

Kami bercinta seolah berlomba ketahanan, entah sudah berapa lama dan berapa kali ganti posisi telah kami lakukan. Diluar dugaanku, ternyata Dibyo bisa bertahan lebih lama, ketika kami di posisi dogie, Josua tak bisa bertahan lebih lama lagi, tanpa bisa dicegah lagi, diapun memuntahkan spermanya di vaginaku diiringi teriakan kenikmatan, kurasakan denyutan denyutan nikmat menerpa dinding dinding vaginaku meski tidak terlalu kuat.

Beberapa saat kemudian Josua menarik keluar penisnya, akupun menggelosor tengkurap dengan napas yang menderu setelah permainan panjang. Belum sempat aku mengatur napasku, Dibyo menarik pantatku, memintaku kembali nungging, meskipun capek tapi aku tak tega menolaknya, sepertinya sedari tadi dia sudah memendam keinginan untuk kembali menikmati tubuhku.

Aku hendak mencegahnya saat penisnya sudah di ambang pintu vaginaku, nggak enak rasanya kalau dia harus menyetubuhiku sementara sperma Josua masin di dalam, aku ingin membersihkan dulu, tapi terlambat, sepertinya dia tak peduli, dengan sekali dorongan keras, penis Dibyo kembali memasuki liang vaginaku, terasa masih ada celah kosong saat penisnya melesak semuanya.

Berbeda dengan sebelumnya, tanpa membuang waktu lagi, kali ini Dibyo mengocokku dengan penuh nafsu, begitu keras dan cepat sambil menghentakkan tubuhnya pada pantatku, diiringi tarikan pada rambutku, sungguh liar permainannya kali ini, sangat berlawanan dengan yang tadi. Akupun tak mau kalah, kuimbangi dengan menggoyangkan pantatnya melawan gerakannya, desahan kami berdua saling bersahutan, kecipuk suara cairan vagina bercampur sperma tak kami hiraukan, terlupakan sudah bahwa Dibyo adalah suami dari sobat karibku, yang ada hanyalah nafsu dan birahi diantara kami.

Aku minta mengubah posisi, kali ini aku di atas, ingin kutunjukkan bagaimana goyangan pinggulku membobol pertahanan terakhirnya. Dengan sisa sisa tenaga karena aku sudah beberapa kali orgasme saat dengan Josua tadi, akupun bergoyang liar di atasnya, ingin kuberikan apa yang kuyakin belum pernah dia alami bersama Wenny, istrinya, entah kenapa aku jadi ingin membuktikan bahwa aku tak kalah dengan si istri yang sobatku itu.

Kami bercinta dengan penuh gairah, jauh melebihi apa yang telah kami lakukan tadi, sepertinya kami sudah mengeluarkan watak asli permainan kami yang cenderung liar.

Keringat sudah membasahi tubuh kami berdua, aku begitu bersemangat, begitu juga dia, tak kuhiraukan ternyata justru aku yang mencapai orgasme lebih dulu, sungguh luar biasa stamina Dibyo, jauh dari perkiraanku, kalau aku tak mengalami sendiri tentu sulit untuk percaya bahwa dia begitu perkasa di ranjang.

Menit demi menit berlalu hingga aku tak kuasa lagi menahan orgasme yang kesekian kali, sementara dia masih belum terlihat tanda tanda ke arah sana, dan akhirnya akupun menyerah dalam dekapannya.

"Sudah.. sudah.. Ah.. Ampun, aku menyerah", dan akupun terkulai lemas di atasnya, tak mampu lagi menggoyangkan pinggulku.
"Ya sudah, istirahat sana" katanya seraya mendorong tubuhku turun dari atasnya, dan akupun menggelepar di sampingnya.

Permainan Dibyo tidak berhenti sampai disitu, dia menghampiri Lenny yang dari tadi mengamati kami bercinta sambil berbaring di atas ranjang sembari mempermainkan klitorisnya. Begitu Dibyo menghampirinya, Lenny langsung mengambil posisi telentang dengan kaki terbuka lebar, tapi Dibyo justru memintanya nungging. Dengan irama kocokan yang liar dia mengocok Lenny dengan posisi dogie.

Aku meninggalkan mereka, membersihkan sperma lalu menyusul Josua duduk di sofa mengamati permainan Dibyo dan Lenny, terus terang aku terkagum dengan keperkasaan sobatku ini, entah bagaimana Wenny bisa melayani suaminya itu sendirian kalau di rumah.

"Gila itu orang, kuat banget mainnya" komentarku sembari berbagi Marlboro dengan Josua.
"Dia sih paling kuat diantara kelompok kami berlima, hampir tak pernah dia booking cewek sendirian, biasanya langsung 2 orang, kalau nggak gitu kasihan ceweknya" jawab Josua mengagetkanku, sungguh jauh dari penampilan biasanya yang terlihat pendiam.

Cukup lama mereka bercinta di atas ranjang, sudah beberapa kali berganti posisi sebelum akhirnya mereka menggapai orgasme hampir bersamaan ketika posisi Dibyo sedang di atas.

Mereka berpelukan beberapa saat sebelum Dibyo turun dari tubuh Lenny, tampak wajah kepuasan bercampur kelelahan dari mereka.

Beberapa menit mereka sama sama menggelepar di atas ranjang sambil mengatur napas yang menderu. Dibyo berdiri menghampiriku, duduk menjepit aku dan Josua, diambilnya Marlboro yang ada di tanganku dan menghisapnya kuat kuat.

"Sorry Ly, aku harus segera pulang, ntar istriku curiga dan aku nggak boleh ke diskotik lagi" katanya sambil mengepulkan asap rokoknya.
"Kamu tinggal aja disini nemenin Josua dan Lenny besok siang aku telepon lagi, oke?" lanjutnya.

Aku hanya diam saja tak tahu harus ngomong apa, tanpa menunggu jawaban dariku, dia beranjak mengenakan pakaiannya tanpa membersihkan tubuh terlebih dahulu.

Dibyo memanggilku ke kamar mandi.

"Sebenarnya aku tak tega melakukan ini, tapi harus kulakukan, apa yang kita lakukan barusan hanyalah sekedar bisnis, nothing personal, dan tidak ada yang berubah di antara kita termasuk dengan Wenny maupun Reno adikku, kamu ngerti kan" katanya sembari memberikan segebok uang 50 ribuan. Aku hanya mengangguk tanpa kata, 100 persen setuju apa yang dia katakan.
"Boleh aku minta satu hal?" tanyaku.
"Apa itu?" jawabnya, tanpa menunggu lagi reaksinya aku jongkok di depannya, kubuka resliting celananya dan kukeluarkan penisnya yang lemas.
"Sekedar tip, memberi apa yang belum aku berikan" jawabku sambil memasukkan penis itu ke mulutku.

Dibyo diam saja, penisnya kupermainkan dengan lidahku, kususuri sekujur batang hingga pangkalnya, perlahan mulai menegang dalam genggaman dan mulutku, selanjutnya penis tegangnya sudah meluncur cepat keluar masuk mengisi rongga mulut diiringi desah kenikmatan.

Lima menit sudah aku melakukan oral, tanpa kusadari tanganku ikutan mempermainkan klitorisku sendiri seiring dengan kocokan pada mulutku. Aku tak kuasa menolaknya ketika dia menarik tubuhku berdiri dan memutar menghadap cermin di kamar mandi, dengan sedikit membungkuk, dari belakang Dibyo melesakkan penisnya ke vaginaku.

"Kita quickie saja yaa" bisiknya seraya mendorong masuk penisnya, segera kurasakan sodokan demi sodokan yang semakin keras dari belakang menghantamku diiringi dekapan dan remasan dikedua buah dadaku, sesekali ciuman pada tengkukku yang membuatku semakin menggeliat dalam dekapannya.

Pantulan bayangan kami di cermin membuat suasana semakin bergairah, apalagi belaian lembut pada rambutku yang kurasakan begitu penuh perasaan meski kocokannya makin menjadi jadi.

"Aku mau keluar" bisiknya beberapa menit kemudian, segera kudorong tubuhnya mundur hingga penisnya terlepas dan akupun langsung jongkok di depannya.

"Keluarin di mulut" kataku, tanpa menunggu reaksinya, kumasukkan kejantanannya kembali ke mulutku, entah kenapa rasanya aku ingin memberikan apa yang kuyakin belum pernah dia dapatkan dari istrinya. Dan tak lama kemudian diapun menyemprotkan sisa sisa spermanya di mulutku, kujilati batang kejantanannya hingga bersih lalu kumasukkan ke celananya.

"Salam untuk Wenny" kataku saat menutup reslitingnya, dia hanya tersenyum mencubit pipiku.

Aku membersihkan tubuhku dengan air hangat ketika Dibyo pamit pulang, ketika aku kembali ke kamar, ternyata Lenny sedang bergoyang pinggul di pangkuan Josua, mereka melakukannya di sofa. Kuhampiri mereka dan duduk di samping Josua, dia meraih tubuhku dan mencium bibirku, sembari tangannya meremas remas buah dadaku bergantian.

Sisa malam kami habiskan dengan penuh birahi, bergantian Josua menyetubuhi aku dan Lenny, dilayani 2 gadis cantik dan sexy seperti aku dan Lenny, tentu membuat laki laki bertambah gairah dan ada tambahan energi tersendiri untuk menunjukkan ego keperkasaannya. Akhirnya kondisi fisik jualah yang menjadi pembatas antara keinginan dan kenyataan, kamipun istirahat dan terlelap dalam kelelahan tak kala sang mentari sudah menampakkan sedikit berkas sinarnya di ufuk timur, entah jam berapa itu.

Aku terbangun saat kudengar HP-ku berbunyi, Lenny dan Josua masih terlelap disampingku, matahari sudah tinggi, terang menampakkan sinarnya. Ternyata salah seorang tamu langganan lain yang ingin kutemani makan siang nanti, orderan baru.


Bersambung . . . . .

Menembus Batas - 4

Jarum jam menunjukkan hampir ke angka 11, cukup lama kami tertidur tadi.

Perlahan kutinggalkan Josua dan Lenny, aku mandi untuk bersiap menemui tamuku berikutnya di Hotel Westin (sekarang JW Marriot) di Embong Malang. Josua dan Lenny baru bangun ketika aku sudah rapi berpakaian dan ber-make up.

"Sorry, aku ada janji siang ini, aku tinggal dulu ya" sapaku.
"Kamu tetap sexy meski sudah berpakaian, bahkan semakin membuat penasaran yang melihatnya" jawab Josua sambil menghampiriku, dipeluknya tubuhku dari belakang dan diremasnya buah dadaku.
"Wah banyak orderan nih" celetuk Lenny.
"Selamat bekerja sayang" bisik Josua tanpa melepaskan tangannya dari dadaku.
"sudah ah, ntar kusut pakaianku ini, aku nggak bawa ganti nih" jawabku sambil menggelinjang karena bibirnya sudah menempel di telingaku, akupun menghindar menjauh.

Setelah menerima pembayaan dari Josua, akupun meninggalkan mereka yang masih telanjang menuju ranjang lain dengan permainan yang lain pula.

Sejak kejadian itu, sengaja atau tidak, aku jarang bertemu berdua dengan Dibyo seperti sebelumnya, begitupun dengan istrinya, rasanya nggak ada muka untuk ketemu Wendy, kalaupun mereka ngajak jalan bareng, aku pastikan harus ada istrinya, selebihnya semua berjalan seperti biasa.

Akibatnya, aku justru lebih dekat dengan si Reno, adiknya yang terkenal Playboy itu, dengan wajah yang imut tak susah baginya untuk mendapatkan cewek dan aku yakin sudah tak terhitung cewek yang jatuh ke pelukannya dan berhasil dia bawa ke ranjang.

Lebih 2 bulan setelah kejadian itu, aku makan siang berdua dengan Reno di Bon Cafe, sungguh sial ternyata ketemu sama Josua yang menggandeng seorang gadis, atas ajakan Reno mereka akhirnya bergabung dengan table kami.

Kamipun makan sambil ngobrol berempat, entah keceplosan atau disengaja, Josua bercerita betapa hebat permainanku di ranjang, terutama permainan oral, dia kira aku sudah pernah melakukan dengan Reno. Reno yang selama ini mengenalku sebagai teman menatapku seakan tak percaya, aku menghindari tatapannya sambil mengumpat kelancangan Josua, tentu saja dalam hati.

"Selamat bersenang senang, sorry aku nggak bisa gabung dengan kalian, ada acara sama dia" kata Josua sambil menunjuk gadis disebelahnya.
"Dia senang rame rame lho, tanya Dibyo kalo kamu nggak percaya" bisiknya lagi sebelum meninggalkan kami.

Aku terdiam dengan muka memerah, malu karena kedokku dibongkar dihadapan temanku sendiri.

Sepeninggal Josua kami terdiam, entah apa yang terlintas dalam benaknya, kulirik sesaat, ternyata Reno melototi tubuhku, seakan berusaha menembus dibalik pakaianku.

"Kita pulang yuk" ajakku melihat suasana sudah nggak enak lagi.
"Lho, katanya mau shopping di Galaxy"
"Nggak jadi ah, lain kali aja" tolakku, dan kamipun beranjak pergi.

Sepanjang jalan kami sama sama terdiam hingga tiba didepan tempat kos, aku langsung turun tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Beberapa hari kemudian setelah aku selesai melayani tamu di Hotel Sheraton, kulihat missed call di HP-ku, dari Dibyo, entah kenapa aku kok ingin meneleponnya, padahal biasanya aku cuekin saja missed call dari dia.

"Ly, ketemu yuk, kangen nih" katanya dengan suara memelas tak seperti biasanya, pasti dia lagi ada maunya, dan aku yakin maunya tak jauh dari urusan ranjang.

Meski aku berusaha menghindari hal seperti ini, tapi tak dapat dipungkiri akupun merindukan keperkasaannya di atas ranjang, apalagi tamuku barusan tidak bisa memuaskanku, jadi sebenarnya ini hanyalah masalah timing yang tepat. Setelah berpura pura menolak dan dia terus merajuk, akhirnya aku sanggupi permintaannya.

"Oke Hotel Sheraton kamar 816" kataku karena tamuku tadi sudah pulang dan aku belum check out, sekalian saja kumanfaatkan sisa waktu yang ada, daripada terbuang sia sia, check in mahal mahal cuma dipakai 2 jam.

Baru saja HP kututup, dia telepon lagi.

"Ly, boleh nggak bawa teman"

Aku yang sudah tergadai nafsu karena birahi yang tak tertuntaskan barusan hanya mengiyakan tanpa tanya lebih lanjut siapa temannya.

Sambil menunggu kedatangannya, aku segarkan tubuhku dengan air hangat, berendam sejenak untuk menghilangkan rasa capek setelah hari ini melayani 3 tamu sejak pagi tadi. Belum setengah jam aku berendam, bel pintu berbunyi, pasti Dibyo sudah datang, pikirku.

Masih dengan telanjang, kubuka pintu dan aku langsung kembali masuk bathtub.

"Tunggu ya, aku mandi dulu biar segar dan wangi, santai saja anggap rumah sendiri" jawabku meneruskan acara berendam tanpa buru buru menyelesaikan, kalau dia nggak sabar pasti menyusulku ke kamar mandi. Ternyata dia tidak menyusulku hingga kuselesaikan mandiku. Tanpa mengenakan penutup, dengan telanjang aku ke kamar, bersiap untuk menumpahkan segala birahi dengan keperkasaan Dibyo.

"Aku sudah siaap" teriakku sambil melompat ke ranjang, dan baru kusadari ternyata yang duduk di sofa bukanlah Dibyo melainkan si Reno, adiknya.

Begitu tersadar, aku berusaha menutupi tubuhku dengan apa yang ada disekitarku, tapi terlambat, Reno sudah menubruk tubuh telanjangku dan menindihnya.

"Ly, nggak usah sok alim, aku selalu membayangkan sejak diceritakan Josua tempo hari, kebetulan saat kutanya Dibyo dia malah ngajak membuktikan" bisiknya sambil menindih tubuhku, akupun tak bisa berontak.

Didekap tubuh Reno yang atletis ditambah wajah imut yang menempel dekat wajahku, akupun takluk akan kekuatannya, disamping itu akupun tak sunggu sungguh untuk berontak, hanya reaksi spontan melihat laki laki yang tidak diharapkan melihat tubuh telanjangku.

"Oke.. Oke, mana Dibyo" tanyaku.
"Sebentar lagi dia datang, aku disuruh tunggu di lobby tapi kupikir lebih baik langsung aja aku bisa ngobrol sambil nunggu kedatangannya, ternyata aku mendapatkan lebih dari yang kuharapkan" jawabnya sambil mengendorkan dekapannya.

Begitu dekapannya longgar, kudorong tubuhnya hingga terjengkang telentang, ganti aku menindihnya.

"Kalian bersaudara memang nakal, ini namanya jebakan pada teman sendiri" kataku setelah menguasai emosiku.
"Tapi nggak marah kan?" jawab Reno, aku hanya menjawab dengan ciuman pada bibir Reno dan dia membalas dengan bergairah, sedetik kemudian tangannya sudah berada di dadaku, menjelajah dan meremas remas.
"Ih nakal ya" bisikku disela lumatan bibirnya.
"Tapi suka kan" balasnya, kulumat bibirnya sambil mempermainkan lidahku hingga bertaut lidah dengan lidah.

Reno kembali membalik dan menindih tubuhku, bibirnya beranjak menyusuri pipi dan leherku, berhenti pada kedua puncak bukitku.

"Bagus.. Kencang dan padat.. Indah" pujinya sambil mengulum dan menyedot putingku.

Aku mendesah geli meskipun cumbuannya tak sepintar kakaknya tapi cukup membuatku mendesah melayang. Bibir dan lidahnya sudah sampai ke perut dan terus turun hingga ke selangkangan, aku menjerit ketika lidahnya menyentuh klitorisku, tapi dia justru semakin memperlincah gerakan lidahnya, dan akupun semakin menggeliat dalam kenikmatan.

Aku tak tahu mana yang lebih lihai bermain oral apakah dia atau kakaknya karena Dibyo belum pernah melakukannya padaku, siapapun yang lebih pintar yang jelas Reno telah membuatku melayang karena jilatannya pada vaginaku.

"Eh, kamu kok masih pake pakaian gitu, curang deh, sini aku lepasin" kataku ketika sadar bahwa dia belum melepas pakaiannya.

Kudorong tubuh Reno hingga telentang lalu aku melucuti pakaiannya satu persatu hingga menyisakan celana dalamnya yang tampak menonjol pada bagian selangkangan, ketika kuraba dan kuremas tonjolan itu, begitu keras menegang. Segera kulorot celana dalamnya dan aku terkaget melihat ukuran kejantanannya, tidak terlalu panjang bahkan relativ lebih pendek dari umumnya tapi diameternya begitu besar, tak cukup tanganku melingkarinya.

Membayangkan penis besar itu akan memasuki vaginaku, tiba tiba otot vaginaku terasa berdenyut denyut dengan sendirinya. Ini bukanlah penis terbesar yang pernah kupegang, tapi dengan panjang yang tidak terlalu maka penis itu kelihatan begitu gede di genggamanku, dan otot vaginaku semakin berdenyut keras melihat postur tubuhnya yang berotot, ramping dan sexy, jauh lebih menggairahkan tubuhnya dibandingkan kakaknya, apalagi rambut kemaluannya dicukur habis, pentesan banyak gadis yang tergila gila padanya.

Kukocok dan kuremas remas sebentar penis tegang di genggamanku, lalu kususuri lidahku pada seluruh batang dari ujung hingga pangkal, dia mulai mendesis kenikmatan.

Agak susah aku memasukkan penis itu ke mulutku tapi dengan segala usaha akhirnya penis itupun bisa meluncur keluar masuk membelah bibir mungilku. Sembari mendesah, tangannya tak henti menekankan kepalaku pada selangkangannya, seakan memaksaku untuk memasukkan penisnya lebih dalam ke mulutku.

Kami berganti posisi 69, aku di atas, tidak seperti saat pertama kali bercinta dengan Dibyo yang penuh kecanggungan dan kekakuan, kali ini aku bebas lepas mencurahkan segala expresiku untuk menikmati bercinta dengan Reno.

Gerakan lidah Reno yang liar kubalas dengan sapuan liar pula pada penisnya, aku lebih sering menjilati dari pada mengulum batang gede itu.

Puas saling bermain oral, Reno kembali menelentangkan tubuhku, posisi tubuhnya sudah siap untuk segera melesakkan penisnya. Jantungku tiba tiba berdetak kencang seiring otot vaginaku berdenyut ketika kepala penis yang besar itu mulai menyapu bibir vagina.


Bersambung . . . . . .

Menembus Batas - 5

Aku memejamkan mata sambil membuka kakiku lebar lebar menunggu apa yang akan terjadi, entah sakit entah nikmat. Rasa pedih mulai terasa ketika penis itu perlahan mulai melesak masuk padahal vaginaku sudah basah, dan semakin nyeri tak kala tertanam semua. Aku tak berani menggerakkan kakiku, penis itu terasa begitu mengganjal gerakanku di selangkangan. Perlahan Reno memulai gerakan memompa namun kuberi isyarat untuk menghentikan dulu.

"Sebentar, penuh nih" bisikku bercampur desah.

Namun dia hanya menurut beberapa detik, selanjutnya dia mulai gerakannya tanpa memperhatikan isyaratku. Gerakan memompa yang perlahan semakin lama semakin terasa nikmat, rasa nyeri berangsur menjadi nikmat dan semakin nikmat ketika dia mulai mempercepat gerakannya, aku sangat berharap dia bisa seperkasa kakaknya.

Begitu rasa nyeri hilang, jeritan kesakitankupun berubah menjadi jeritan kenikmatan, tubuh atletis Reno menempel erat di dadaku, ada rasa geli saat dada yang berbulu itu menyentuh putingku, tapi justru semakin menambah rangsangan, apalagi perutnya yang rata tak terasa mengganjal di perut. Kamipun semakin erat berpelukan saling mentransfer kenikmatan.

Sebenarnya aku agak keberatan ketika dia minta posisi dogie, aku masih ingin merasakan lebih lama dekapan tubuh atletisnya, jarang sekali mendapatkan cumbuan dan belaian laki laki seperti dia, apalagi dengan penis yang gede meskipun relatif pendek.



Begitu tubuhku nungging, segera Reno melesakkan kembali penisnya, kali ini tanpa rasa nyeri saat mulai menerobos menguak liang sempit vagina. Gerakan memompa Reno terasa begitu penuh perasaan meskipun terkadang diiringi sodokan sodokan keras, aku merasa dia begitu romantis saat menyetubuhiku. Rabaan dan ciuman di tengkuk mengiringi gerakan kami, akupun semakin menggeliat tak karuan.

"Sshh.. Aduuh.. Ennaak.. Truss.. Truss.. Yang keraass" tanpa malu aku mendesah memintanya lebih keras menyodokku, rasanya penis besar itu masih kurang masuk ke vaginaku, ada bagian lain di dalam yang belum tersentuh.

"Enak mana sama Dibyo" katanya tanpa memperlambat kocokannya.
"Enak.. Inii, lebih keraass" jawabku sejujurnya dan mulai meracu.

Tak lama kemudian aku sudah berada di atasnya, kutekankan pinggulku lebih dalam sekan hendak melesakkan penis yang tidak panjang itu lebih dalam lagi, alangkah enaknya kalau penis yang gede itu lebih panjang lagi, paling tidak sama dengan punya kakaknya, tapi itulah kenyataannya, gede tapi pendek tapi tetap saja enaak.

Kugerakkan tubuhku di atasnya dengan liar, antara turun naik dan berputar seperti hula hop, Reno merem melek sambil meremas remas buah dadaku. Kutatap wajahnya yang sedang mengerang kenikmatan, rasanya tak bosan menatap wajah imut dan dadanya yang bidang. Dan ternyata itu membawaku lebih cepat menuju puncak kenikmatan, tanpa bisa menahan lebih lama lagi, akupun menjerit dalam nikmatnya orgasme.

Sebenarnya aku nggak mau orgasme duluan, perjalanan masih panjang, masih ada Dibyo yang sebentar lagi datang, kalau sampai orgasme tentu energiku akan banyak terkuras dan akan kelelahan sebelum perjalanan berakhir. Tapi itu hanyalah keinginan, kenikmatan yang kudapat dari Reno terlalu sayang untuk ditahan tahan, dan terpaksa aku menyerah dalam pelukan dan kegagahan Reno.

Aku terkulai lemas dalam pelukan Reno, terbalaskan sudah kekecewaan pada tamuku sebelumnya, bahkan melebihi apa yang aku harapkan, begitu puas rasanya. Tapi ternyata Reno tak berhenti sampai disini, tanpa mempedulikan aku yang sedang lemas dalam dekapannya, dia membalik tubuhku dan langsung menindihnya.

Kembali tubuh kekar itu menghimpit nikmat tubuhku, kocokan Reno mulai cepat dan liar namun masih saja kurasakan penuh perasaan. Hanya beberapa kocokan kemudian, gairahku kembali naik dengan cepatnya, apalagi bibir Reno tak pernah lepas dari leher, dada dan bibirku.

Kedua kakiku naik di pundaknya, terasa kejantanannya semakin dalam melesak di vagina, lebih nikmat rasanya. Kuimbangi gerakannya dengan sebisa mungkin menggoyang pinggulku, tentu lebih susah dengan kaki di atas pundaknya. Kami berdua benar benar terhanyut dalam buaian birahi, terlupakan sudah Dibyo yang belum juga datang.

Akhirnya akupun untuk kedua kalinya tak bisa bertahan, kuraih orgasme kedua darinya, namun kali ini diapun menyusulku ke puncak birahi, hampir bersamaan kami saling memberikan denyutan. Sperma Reno terasa begitu banyak membanjiri liang vaginaku, kudekap erat tubuh Reno hingga kurasakan hembusan napasnya menerpa telingaku.

Ketika Reno turun dari tubuhku, penisnya tercabut keluar, vaginaku serasa kosong dan tetesan sperma sepertinya meleleh keluar membasahi sprei. Kamipun telentang berdampingan dengan napas yang masih senin kamis.

"Kamu hebat, 2 kali aku dibikin orgasme" kataku setelah beberapa saat terdiam sambil menumpangkan kepalaku di dadanya yang bidang.
"Kamu juga hebat, kalau cewek lain sudah terkapar minta berhenti" jawabnya ringan sambil membelai rambutku.
"Andai saja aku tahu kamu seperti ini, sudah sejak dulu aku melakukannya" lanjutnya.
"Tapi belum terlambat kan"
"Iya sih, tapi terlalu lama penantiannya"
"Penantian?"
"Iya, laki laki normal mana sih bisa tahan melihat penampilanmu yang selalu sexy dan ceria, pasti mereka punya fantasi terhadapmu kalau di ranjang, bahkan aku pernah berfantasi bercinta denganmu sambil main sama cewek lain"
"Ah yang benar!!" tanyaku terkejut.
"Sungguh dan aku yakin Dibyo juga sudah lama memendam keinginan mengajakmu ke ranjang tapi nggak ada keberanian saja"
"Dan sekarang?" tanyaku penasaran.
"Ternyata apa yang menjadi fantasiku, tidak ada apa apanya dibandingkan kenyataan barusan, jauh melebihi angan dan harapanku"

Sambil berbincang, kurasakan sperma Reno deras mengalir keluar tapi aku biarkan saja.

"Sekarang aku tak perlu lagi memimpikan kehangatan kamu, kalau aku pingin bisa booking kapan saja, dan kita masih tetap berteman, itulah enaknya setelah ini" lanjutnya.

Dibyo datang tak lama kemudian, setelah aku membersihkan tubuhku, Reno membuka pintu menyambut kakaknya, aku cuek saja telanjang di atas ranjang.

"Sorry aku telat" sapanya sambil mencium pipiku.
"Ah nggak apa kok" jawabku, malah kebetulan aku ada kesempatan bersama Reno lebih lama, lanjutku dalam hati.

Tanpa diminta lagi, Dibyo segera melepas pakaiannya hingga telanjang, terlihat kejantanannya yang setengah menegang, tampak kecil dan memanjang sungguh berbeda dengan adiknya.

"Belum terlalu terlambat kan" tanyanya sembari menghampiri dan mencium bibirku dan kubalas dengan lumatan pula, kali ini aku biasa saja melayani ciuman Dibyo, tak ada kecanggungan seperti saat pertama kali dulu.

Tubuhnya langsung menindihku, kamipun berpelukan sambil berciuman bertautan lidah, seolah saling menumpahkan rasa rindu yang hebat. Bibir Dibyo dengan cepatnya menyusuri tubuhku, turun terus, tak dihiraukan puting buah dadaku, hanya sedikit jilatan lalu terus turun ke perut namun kembali lagi ke atas.

Ketika bibirnya mencapai kedua putingku, kudorong kepalanya ke bawah, ke arah selangkangan. Aku mau merasakan jilatan Dibyo di vagina, dia belum melakukannya, ingin kubandingkan kemahirannya dengan si adik.

Ternyata permainan lidahnya tidak kalah hebat, bahkan lebih mahir dibandingkan adiknya, aku menggeliat kelojotan merasakan lidahnya menari nari dengan lincahnya diantara klitoris dan bibir vaginaku. Cukup lama kepalanya terjepit di antara kakiku, dan kalau tak segera kuhentikan bisa bisa aku mengalami orgasme hanya dengan permainan lidahnya, ini sungguh memalukan.

Dibyo tersenyum penuh kemanangan ketika aku minta dia segera memasukkan penisnya, namun bukannya segera memenuhi kemauanku, tapi malah telentang disampingku dan memintaku gantian mengulum kejantanannya.

Aku yang sudah terbakar birahi terpaksa memenuhi keinginannya, ketika aku tengah jongkok diantar kakinya, Reno yang sedari tadi duduk di sofa mengamati kami, sudah berada di sampingku, dia ikutan telentang di samping kakaknya dengan kejantanan yang sudah tegak menantang.

Sembari mengulum penis Dibyo, kuremas dan kukocok kejantanan adiknya, dua penis yang berbeda bentuk dan ukuran berada dalam genggaman kekuasaanku. Meskipun menyolok perbedaannya, tapi keduanya seakan saling melengkapi, yang satu besar dan pendek sedangkan lainnya kecil tapi panjang, kalau digabungkan tentu akan menimbulkan kenikmatan tersendiri.

Bergantian penis kakak beradik itu mengisi dan mengocok mulutku, mereka mendesis nikmat bergairah, akupun melayani dengan tak kalah gairahnya, perbedaan yang menyolok itu semakin menambah sensasi dan erotika pada diriku, bisa dibayangkan betapa nikmatnya kalau penis itu bergantian mengocok vaginaku, membayangkan saja aku sudah semakin terbakar nafsu.

"Siapa duluan" tantangku setelah aku telentang diantara kedua bersaudara itu, sengaja kubuat suasana lebih liar meskipun aku tahu pasti bahwa sekarang giliran Dibyo. Kalau disuruh pilih, aku lebih suka Dibyo duluan supaya masih bisa merasakan "kebesaran" kejantanan adiknya setelahnya. Harapanku terkabul ketika Dibyo sudah berada di antara kakiku.

"Jangan posisi gini dong, aku susah nih" kata Reno lalu dia minta kami untuk ber-dogie.

Reno duduk di atasku saat kakaknya berada di belakang, penisnya tepat berada di wajahku. Ketika kakaknya mulai mendorong masuk kejantanannya, masuk pula penis adiknya di mulutku, dua penis bersaudara yang berbeda itu mengisi kedua lubang kenikmatan tubuhku bersamaan dari arah yang berbeda. Dengan posisi seperti ini, aku lebih suka penis Dibyo yang dimulut dan adiknya di vagina, tapi itu tinggal tunggu waktu saja.


Bersambung . . . .